Hampherseorang orientalis yang menjalin persahabatan dengan Ibnu Abdul Wahab. Tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai dan keamiran berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia. Umumnya kaum intelektual dan ulama Ahlusunah – penganut 4 mazhab ‘resmi’ Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali– menganggap kaum Wahhabi, termasuk pendirinya
Artiyang pertama, sudah umum diterjemahkan bahwa Allah itu merupakan tumpuan harapan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini . Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini semua bergantung kepada Allah. Dalam ayat lain QS Asy Syuura (42) ayat 11 dikatakan bahwa لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.Laisa kamislihi syaiun yang
Iadisebut sebagai nabi pertama dalam arti bapaknya para ruh (abu al-warh al-wahidah), nabi terakhir karena memang ia sebagai khatam an-nubuwwah wa al-mursalin. MAN ini jika kita bawa kepada pengertian NAFSAHU maka ia akan membawa kepada manusia yang “Laisa kamislihi syaiun ” yaitu manusia yang Batin atau dikenal sebagai INSAN atau di
YaituTuhan yang bertaraf LAISA KAMISLIHI SYAIUN (Yang tidak berupa apa pun juga) Maksudnya lagi : MAN ini jika kita bawa pada pengertian NAFSAHU maka ia akan membawa kepada manusia yang “Laisa kamislihi syaiun ” yaitu manusia yang Batin atau dikenal sebagai INSAN atau di kenal juga sebagai DIRI SEBENAR DIRI yang bertaraf NYAWA atau NAFAS.
makadia adalah laisa kamislihi syaiun, tiada satu pun yang menyerupainya, dan keadaannya dahulu adalah seperti keadaannya sekarang, dan keadaannya sekarang adalah seperti keadaannya dahulu, . harus dihubungkan antara ke 2 nya. apabila ada suatu qur’an dan hadist.tersurat pada suatu kenyataan dalam arti, atau kata2 yang disampai kan
NABIMUSA DAN BUKIT THURSINA. Posted on 3:49 PTG by Qalam-hatiku.blogspot.com. Kisah Nabi Musa as, dimana pada suatu hari Nabi Musa bermunajat kepada Allah SWT, “Ya Allah, ya tuhanku perzahirkanlah rupa paras mu, ya Allah aku nak tengok, aku nak lihat dan aku nak tilik wajah mu ya Allah. Kata Allah SWT,”Tidak boleh ya Musa, kamu
. Apa Arti Laisa لَيْسَ ?Arti Laisa adalah tidak atau bukan, tulisan arab laisa adalah لَيْسَ, laisa terdiri dari 3 huruf hijaiyah, yakni huruf lam, huruf ya', dan huruf sin. Penggunaan kata laisa akan sering kita temukan di dalam tulisan dan kalimat yang menggunakan bahasa arab, seperti kata laisa kamislihi syai’un, tulisan arab laisa kamisilihi syai’un adalah لَيْسَ كَمِسْلِهِ شَيْءٌ. Arti kata laisa kamislihi syai’un adalah tidak menyerupai dia dengan sesuatu apapun, Adapun penulisan laisa bisa berubah-ubah sesuai dengan dhomir kata gantinya, perubahan tersebut dinamakan tashrif lughowi. Berikut adalah tashrif lughowi kata laisaهُوَ لَيْسَ artinya bukan dia laki-lakiهُمَا لَيْسَا artinya bukan mereka berdua laki-lakiهُمْ لَيْسُوْا artinya bukan mereka laki-laki هِيَ لَيْسَتْ artinya bukan dia perempuanهُمَا لَيْسَتَا artinya bukan mereka berdua perempuanهُنَّ لَسْنَ artinya bukan mereka semua perempuanأَنْتَ لَسْتَ artinya bukan kamuأَنْتُمَا لَسْتُمَا artinya bukan kamu berduaأَنْتُمْ لَسْتُمْ artinya bukan kamu semuaأَنْتِ لَسْتِ artinya bukan kamu perempuanأَنْتُمَا لَسْتُمَا artinya bukan kamu berdua perempuanأَنْتُنَّ لَسْتُنَّ artinya bukan kamu semua perempuanأَنَا لَسْتُ artinya bukan sayaنَحْنُ لَسْنَا artinya bukan kamiGambar Contoh Kalimat Dengan LaisaContoh Kalimat Dengan Kata Laisa لَيْسَ Berikut adalah 12 Contoh kalimat dengan kata Laisa لَيْسَ , adapun warna kuning kami berikan kepada kata yang menunjukkan kata laisa supaya memudahkan di dalam mempelajari dan memahaminyaاَنْتَ تِلْمِيْذٌ لَسْتَ اُسْتَاذٌ artinya kamu adalah murid bukan guruدَلِكَ كِتَابٌ لَيْسَ قَلَمٌ artinya ini adalah buku bukan pulpenهَذِهِ نَافِذَةٌ لَيْسَ بَابٌartinya ini adalah jendela bukan pintuهُمْ لَيْسُوْا مُؤْمِنًartinya mereka bukanlah orang mu’minلَيْسَ كَمِسْلِهِ شَيْءٌ artinya tidak menyerupai dengan sesuatu apapunنَحْنُ لَسْنَا مِنَ العَرَبِى Artinya kami bukan dari orang arabهُوَ لَيْسَ التِّلْمِيْذُ منَ الْمَدرَسَةِ Artinya dia bukan murid dari sekolah sayaاَنْتَ لَسْتَ مِنَ الْمَدِيْنَةِ السُّوْرَابَيَا Artinya kamu bukan guru dari kota Surabayaاَبِى لَيْسَ كذِبٌ وَلَكِنْ هُوَ رَجُلٌ صَادِقٌ Artinya ayah saya bukan penipu dia seorang laki yang jujurلَـيۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ اِلَّا مِنۡ ضَرِيۡعٍۙ artinya Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri,Al ghosiyah ayat 6لَـيۡسَ عَلَى الۡاَعۡمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الۡاَعۡرَجِ حَرَجٌ artinya Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak pula bagi orang pincang, An nur 61 لَـيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ اَنۡ تَاۡكُلُوۡا جَمِيۡعًا اَوۡ اَشۡتَاتًاؕ artinya Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri.
Bagaimana Anda Memahami Petikan Ayat di Atas??? لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِير' merupakan petikan ayat yang terdapat dalam surat asy-Syura' ayat ke 11. Ayat ini banyak dijadikan dalil penguat dari sifat Allah yang termasuk sifat wajib baginya yaitu mukhalafutuhu lil hawadits, berbeda dengan makhluknya. Artinya Allah itu qiyamun linafsihi, berdiri sendiri, tanpa intervensi dari siapapun, Allah itu ya Allah, tiada yang menyamainya, tiada yang setara dengan Dia. Sehingga wajar jika dalam petikan ayat tersebut Allah berfirman bahwa tidak ada sesuatupun makhluknya yang menyerupainya. Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala lah yang Maha mendengar dan mengetahui segala sesuatu itu. Makhluk ciptaan adalah kreasi murni dari Kholik pencipta dan bukan merupakan bagian dari dzat kholik. Terjemahan petikan ayat di atas sebagaimana kita temukan pada Alquran terjemah yaitu 'tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia'. Artinya segala sesuatu itu tidak ada yang sama dengan dzat Allah. Karena manakala ada indikasi bahwa sesuatu itu sama dengan Allah maka hal itu akan memasuki ranah tasybih penyerupaan Allah dengan sesuatu yang lain. Dan menurut Asya'irah Madzhab Asy'ari menyerupakan tuhan dengan makhluk dapat menyebabkan seseorang menjadi 'kafir'. Oleh karenanya tatkala ada ayat yang dhahirnya mengandung makna peyerupaan tuhan dengan makhluk, ayat tersebut dipalingkan, dita'wilkan dengan pengertian yang tepat dalam rangka tanzih membedakan Allah dengan makhluknya/menyucikan dzat Allah. Misalnya 'yadullahi fauqo aidihim', tangan Allah berada di atas tangan mereka. Sekilas ayat ini mengabarkan bahwa Allah itu memiliki tangan layaknya manusia. Namun sebenarnya kata yadun dalam ayat ini bisa dita'wilkan menjadi kekuasaan, jadi maksud ayat di atas adalah kekuasaan Allah berada di atas kekuasaan mereka makhluk. Apabila kita mengartikan petikan ayat Syura' ayat 11 di atas dengan tarjamah harfiyah terjemahan perkata akan kita dapatkan pengertian yang jauh berbeda dengan tarjamah tafsiriah. Secara harfiyah makna cuplikan ayat di atas adalah 'tidak ada yang menyamai kepada yang menyamai Allah' Saiful Hadi, 2009. Artinya dapat kita ambil kesimpulan bahwa ada yang menyamai Allah, padahal hal ini mustahil bagi Allah. Sedikit kita bahas penerjemahan harfiyah tersebut. Kamitslihi artinya seperti sesuatu yang semisalnya, artinya dhomir hi di sana kembali kepada Allah dan ka mitsli itu sesuatu yang menyerupai Allah. Jadi sebenarnya sudah ada sesuatu yang menyamai Allah. Kemudain ada kata 'laisa' sebagai fiil naqish dan 'syaiun' sebagai isimnya yang kemudian bermakna tidak ada yang sama dengan apa yang semisal Allah. Jelas arti harfiyah seperti itu dan berdasarkan indikasi qorinah dari beberapa dalil yang lain hal itu mustahil dan tidak bisa diterima secara akal. Oleh karena itu petikan ayat ini tidak dipahami diterjemahkan serta merta menurut tarjamah harfiyyah melainkan melalui tarjamah ma'nawiyyah yang dirasa lebih tepat dan sinkron. Dalam kitab tafsir al-Qurtuby dijelaskan beberapa pendapat terkait dengan maksud petikan ayat itu. Konon huruf 'kaf' dalam ayat itu adalah sebagai tambahan saja zaidah yang berfungsi sebagai taukid penekanan. Dengan demikian dapat kita artikan 'tidak ada sesuatu yang semisalnya' menafikan arti dari huruf kaf. Ada juga yang mengatakan bahwa huruf kaf berfungsi sebagai taukid dari tashbih dari kata 'mitslihi'. Dan menurut Tsa'lab, ayat itu seolah-olah berbunyi seperti ini 'laisa ka huwa syaiun', dengan menghilangkan lafadz mitslihi, sehinga dapat ditarik kesimpulan arti yaitu 'tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia Allah'. Jadi kita dapat memahami ayat ini berdasarkan pentakdiran atau penafsiran tidak memahaminya berdasarkan dhahirnya saja. Dengan demikian hal ini dapat dijadikan hujjah bagi mereka yang meragukan kebenaran ayat ini. Karena memang di situlah letak kemu'jizatan Alquran, baik dari segi bahasa, susunan kata dan kandungannya. Dalam kajian ini, Aku hanya ingin mengatakan bahwa mempelajari sesuatu itu harus dari dasarnya. Dengan demikian kita akan mendapatkan pemahaman yang syumul menyeluruh dan terinci. Tidak serta merta menerima doktrin dari pengertian sesuatu yang akhirnya menghalangi kita untuk menerima pendapat orang lain yang mungkin benar atau setidaknya mengandung kebenaran. Di sisi lain ini adalah sebuah keajaiban dari Bahasa Arab sebagai bahasa Alquran dan bahassa penduduk surga. Sebuah bahasa yang paling unik dan menurutku adalah bahasa yang paling sulit tapi menarik dipelajari. Karena banyak sekali kajian yang tercakup di dalamnya, kedalaman makna dan kandungan yang terkadang tidak bisa dipahami secara langsung. Subhanallah, wahai kawan sebagai generasi penerus bangsa marilah kita mengkaji dan mendalami ilmu dengan sebaik-baiknya, mencoba untuk menggali pengetahuan dari dasarnya dan sedetail mungkin. Andaikata tiada dapat kita lakukan pengetahuan yang mujmal juga tiada salahnya. Intinya, tiada kata untuk tidak belajar dan terus' mengaji' sekaligus 'mengkaji',,, Selamat Menikmati! Salam Karya!
Soalan 1 Apakah makna kalimah "laisa kamitslihi syaiun" ? Jawapan Kalimah "laisa kamitslihi syaiun" adalah firman Allah didalam al Quran surah as-syura ayat 11 yg bunyinya seperti berikut ِۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ Yang terjemahnya ialah "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan DIA dan DIAlah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" As-Syura 42 11 Maksud kalimah "laisa kamitslihi syaiun" itu ialah Allah itu TIDAK semisal dengan sesuatu Allah itu TIDAK boleh dimisalkan Allah itu TIDAK ada persamaan dengan sebarang makhluk Allah itu TIDAK boleh disamakan dengan sebarang makhluk Allah itu TIDAK seumpama dengan sesuatu Allah itu TIDAK boleh diumpamakan Allah itu TIDAK serupa dengan sebarang makhluk Allah itu TIDAK boleh dirupa-rupakan Ringkasnya makna kalimah "laisa kamitslihi syaiun" ialah Allah Ta'ala itu TIDAK ADA PERSAMAAN DENGAN SEBARANG MAKHLUK SEKALIAN MAKHLUK. Wallohua'lam
About Us Diangpedia adalah sebuah blog yang bergerak di bidang pendidikan. Berisikan tentang materi pendidikan, pengertian, dan lain lain. Diangpedia bertujuan untuk memudahkan pelajar mencari jawaban yang dicari. .
Dalam al-Qur’an, ada satu ayat tentang Allah yang menjadi kunci utama dalam memahami seluruh ayat atau hadits terkait sifat Allah yaitu Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun. لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ Artinya"Tiada satu pun yg sama dgn Allah. Dan, Allah Maha Mendengar lgi Maha Melihat" [Surat Asy-Syura 11] Semua pengkaji akidah tahu ayat itu, tapi tidak semuanya tahu akan makna sebenarnya dari ayat tersebut. Apa maksud ayat Laisa Kamislihi Syai'un? Ayat Laisa kamislihi adalah ayat kesebelas dari surat Asy-syura yang menceritakan tentang Allaha. Bagi sebagian orang yang tidak tahu arti dari Laisa kamislihi syaiun, mereka mengira bahwa ayat itu berarti Allah mempunya wajah alias bentuk akan tetapi, bentuk rupa Allah tidak sama dengan makhluknya Dalam benak mereka, Allah itu punya fisik hanya saja bentuk dan karakteristiknya kaifiyahnya yang tidak mirip dengan segala bentuk fisik yang lain atau jismun la kal ajsam. Mereka mengira bahwa Allah SWT punya tangan yang tak sama dengan tangan kita, tangan hewan, tangan malaikat, tangan jin atau tangan robot, tapi tetap tangan secara fisik. Demikian juga Allah SWT punya wajah, mata, kaki dan lainnya hanya berbeda kaifiyahnya saja, tapi tetap organ fisik. Mereka inilah yang disebut oleh para ulama sebagai mujassimah dan musyabbihah. Apa itu Mujassimah musyabbihah? Mujassimah musyabbihah adalah sekelompok orang yang menganggap Allah SWT punya bentuk walau tak sama dengan yg lain Mereka ini benar-benar tak pernah sadar bahwa kalau artinya Allah punya wajah, maka tak ada istimewanya Allah dengan perkataan Laisa kamitslihi syai'un itu. Bukankah banyak sekali bentuk fisik yang unik tak ada duanya di seluruh penjuru semesta ini? Coba anda buat coretan acak di atas kertas, maka itu akan jadi coretan unik yang takkan anda temui di mana pun, sampai ke akhirat pun takkan menemukan yang sama dengan itu kecuali kalau difoto-copy, hehe. Coba anda buat bentuk abstrak dari tanah liat, atau bayangkan makhluk rekaan dalam kepala anda, maka hasilnya adalah sesuatu yang unik takkan mungkin sama dengan lainnya. Bahkan, tubuh manusia pun unik takkan ada yang sama persis kaifiyahnya di seluruh penjuru semesta ini. Hitung saja rambutnya atau scan sidik jari dan retinanya kalau tak percaya. Dalam makna ini, maka sebagai manusia anda bisa berkata "laisa kamitsli syai'un" tak ada yang satu pun yang sama denganku dan itu betul. Teman, saudara, dan siapa pun bisa berkata seperti itu juga dan itu semua betul. Lalu apa spesialnya Allah berkata seperti itu di ayat Asy-Syuradi atas? Kalau maknanya hanya seperti di atas tadi, hanya tidak ada ada yang sama dalam hal bentuk dan karakteristiknya kaifiyahnya dengan Allah, maka tak ada yang spesial bagi Allah sebab yang lain juga bisa berkata yang sama. Bagaimana Arti Sebenarnya Tentang Allah Dalam Surat Asy-Syura Tersebut? Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah yaitu Asy'ariyah dan Maturidiyah tentu tidak demikian memahami ayat Laisa kamislihi di atas. Makna ayat laisa kamislihi Syai'un adalah Allah SWT benar-benar berbeda secara mutlak, tak ada yang sama dari aspek mana pun, tak ada bandingannya yang otomatis tak ada jenis kategorisnya dan tak bisa diukur. Bila seluruh alam dunia terdiri dari jauhar entitas tunggal terkecil yang terdiri dari satu unsur, jisim entitas yang terdiri beberapa unsur dan aradl aksiden, maka Allah bukan jauhar, jisim atau aradl. Artinya bila mau bertele-tele, maka kita katakan bahwa Allah bukan zat cair, zat padat, zat gas, energi, partikel, massa, volume, ruang, warna, gerakan, atau apapun yang mampu dikenal atau dibayangkan manusia. Lalu apa Allah itu kalau bukan semua hal? Allah ya Allah, titik. Dengan makna ini, maka apa bedanya Allah dengan Makhluk lain? berbeda Allah dengan Makhluk adalah didalam semua hal dan hanya Allah satu-satunya yang berbeda dengan cara seperti ini. Adapun selain Allah, paling banter hanya beda kaifiyah bentuk atau karakteristik saja, bukan beda dalam level hakikat. Semoga bermanfaat Oleh Abdul Wahab Ahmad
arti laisa kamislihi syaiun